Burnout karena Gila Kerja? Kok Bisa Ya?

©Unsplash - @convertkit
Hai, Sobat Pemuda! Kalian pernah apa engga sih ngerasain capek, susah tidur, malas untuk makan, dan ngerasa kalau hubungan sosial kalian terganggu? Hal-hal itu bisa saja merupakan tanda-tanda burnout ada pada kalian. Lalu, apa itu burnout?
Burnout atau yang biasa disebut dengan kelelahan mental dan fisik ini ditemukan oleh seorang psikolog klinis asal New York, Herbert Freudenberger. Menurut Herbert, burnout adalah kondisi kelelahan fisik, mental dan emosional yang muncul sebagai konsekuensi dan ketidaksesuaian antara kondisi individu dengan pekerjaannya atau lingkungan dan desain pekerjaannya (Gunarsa, 2004).
Davis dan Newstrom (1985) menjelaskan bahwa pemadaman (burnout) adalah situasi dimana karyawan menderita kelelahan kronis, kebosanan, depresi, dan menarik diri dari pekerjaan.
Menurut World Health Organization (WHO), fenomena burnout merupakan sindrom akibat stres kronis yang belum berhasil dikelola oleh setiap individu. 
Dari pernyataan para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa burnout adalah sindrom akibat kelelahan fisik, mental, dan emosional yang muncul akibat ketidaksesuaian kondisi individu dengan lingkungan pekerjaannya sehingga menyebabkan individu menarik diri dari pekerjaannya.
Setelah mengetahui pengertian burnout, sekarang Sobat Pemuda mengerti kan. Namun, perlu Sobat Pemuda ketahui bahwa remaja merupakan usia yang rentan mengalami burnout. Kok bisa, ya? Ini karena tingginya tuntutan yang diberikan pada remaja, baik yang bersifat permanen maupun sementara. Tuntutan untuk selalu berprestasi, menjadi yang terbaik, dan banyaknya beban tugas membuat remaja menjadi stress. Stress memang bisa dijadikan penghubung untuk mencapai tujuan remaja, namun jika berkepanjangan dapat menyebabkan burnout.
Kondisi burnout tidak dapat dianggap sebagai masalah yang sepele, jika dibiarkan terus menerus dapat menurunkan minat dan motivasi remaja, mengalami gangguan psikosomatis, hingga depresi. Hal ini akan berpengaruh pada kehidupan remaja loh, Sobat Pemuda. Tiap remaja memiliki ciri-ciri yang bervariasi ketika mengalami burnout. Lalu apa saja sih gejalanya?
Remaja yang mengalami burnout seringkali merasakan bahwa dirinya kurang, merasa bahwa semua yang ia lakukan harus sempurna. Sehingga menuntutnya untuk menjadi individu yang worka holic atau gila akan kerja. Hal ini bisa menyebabkan kurangnya jam tidur, karena ia rela mengorbankan waktu tidurnya untuk mengerjakan pekerjaan yang ingin dicapai. Ketika mimpinya tidak tercapai biasanya remaja cenderung menyakiti dirinya sendiri.
Worka holic memang baik, tapi jika dilakukan tidak sesuai porsinya, hal ini justru dapat menurunkan prestasi akademik seorang remaja loh, Sobat Pemuda.
Disamping itu, mudah terpicunya emosi juga menjadi salah satu tanda remaja mengalami burnout. Remaja akan mudah marah meskipun hal yang sepele.
Selain mental, burnout juga menyebabkan perubahan fisik. Remaja yang mengalami burnout kerap sekali mengalami penurunan atau kenaikan berat badan. Jika kamu mengalami perubahan berat badan drastis tanpa adanya pola makan, Sobat Pemuda perlu waspada, ya!
Burnout bukan masalah yang sepele, karena jika dibiarkan bisa mempengaruhi produktivitas serta kinerja Sobat Pemuda kedepannya. Re-read lagi tentang burnout berdasarkan penjelasan diatas. Apabila rekan atau Sobat Pemuda mengalaminya, coba lakukan cara-cara berikut, ya!
  1. Batasi pekerjaan yang kamu lakukan, don’t be so hard to yourself. Ciptakan ruang dan waktu untuk kamu istirahat.
  2. Keluarlah dengan teman-teman terdekatmu. Sebarkan hal positif dengan mereka, entah menceritakan cerita satu sama lain, ataupun pergi ke tempat favorit kalian.
  3. Bekerjalah sesuai kontrak awal kamu bekerja. Terkadang pekerjaan yang berlebihan dan tidak sesuai dengan kontrak awal membuatmu dirimu memaksakan untuk terus bekerja. Cobalah untuk berani membagikan tugasmu.
  4. Tetapkan ekspetasi yang sesuai dengan kemampuanmu. Karena pada dasarnya ada hal yang dapat kita kendalikan dan ada hal yang tidak dapat kita kendalikan.
Jika cara-cara tersebut sudah dilakukan tetapi belum ada perubahan, segera lakukan konsultasi ke psikolog remaja atau tenaga medis lainnya. Mari kita kerja secukupnya, untuk orang terdekatmu, dan juga dirimu sendiri. Kerja keras adalah sesuatu yang positif, tapi Sobat Pemuda harus ingat batasannya, ya!
Penulis: Ribby Aura Khansa
Referensi :