Menanti Kemandirian Indonesia: Bebas Impor Bahan Baku Obat Herbal

Ni Nyoman Adhi Satvika Devi

“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” -Ir. Soekarno

Indonesia, adalah negara yang kaya akan sumber daya alam. Pemanfaatan sumber daya yang melimah di negara ini telah dikembangkan ke berbagai sektor di Indonesia. Dunia kesehatan Indonesia adalah bidang yang krusial dan sangat membutuhkan pengembangan untk menyokong keberlangsungan dan peningkatan kemajuan kesehatan Indonesia. Obat-obatan khususnya, menjadi suatu hal yang sangat dibutuhkan setiap orang dan tentunya sangat mempengaruhi kesehatan dan taraf hidup masyarakat. Sebanyak 35,2% masyarakat yang menyimpan obat untuk keperluan swamedikasi. Angka ini menunjukan bahwa tingginya kebutuhan akan obat baik yang bersifat untuk penyembuhan maupun pemeliharaan kesehatan (Anonim, 2018).

Obat-obatan yang dikonsumsi di Indonesia banyak yang diproduksi didalam negeri maupun diimpor dari negara lain. Industri kefarmasian sendiri memiliki peran yang sangat besar dalam hal produksi dan distribusi obat-obatan. Industri farmasi Indonesia dikatakan telah menunjukan kinerja yang baik dengan mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik akan obat-obatan sebesar 70%. Sedangkan nilai ekspor obat-obatan tradisional sejak tahun 2009 hingga tahun 2013 mengalami peningkatan sebesar 6,49% (DJPEN, 2014). Keberhasilan yang ditunjukkan oleh industri farmasi Indonesia telah memberikan kebanggaan yang besar bagi bangsa ini. Akan tetapi, Indonesia telah lupa bahwa di balik layar keberhasilan industri farmasi dan harapan untuk lebih menguasai pasar, Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku obat untuk memenuhi kebutuhan produksi obat khususnya obat herbal. Hampir 90% bahan baku obat adalah impor dengan kurang lebih 10%-nya adalah bahan baku lokal yang belum bisa diekspor (Badan Koordinasi Penanaman Modal, 2016). Impor yang dilakukan tidak hanya impor bahan baku kimia akan tetapi bahan baku yang sifatnya herbal seperti rempah-rempah juga menyumbang persentase yang tinggi di dalamnya. Kondisi ini bukanlah harapan industri farmasi untuk beberapa tahun kedepan. Kemandirian untuk dapat memproduksi obat-obatan baik dalam hal pemerolehan bahan baku hingga pemasaran tentu sangat dibutuhkan untuk kemajuan Indonesia dalam hal industri obat.

Transformasi haruslah dilakukan oleh Indonesia melalui berbagai pembenahan dan pengembangan sistem industri farmasi dari hulu ke hilir, dari basis produksi hingga ekspor produk jadi. Mimpi untuk menjadi bangsa yang mandiri, tidak hanya sebagai industri farmasi formulasi namun ke depannya mampu menjadi industri farmasi yang berbasiskan riset dan pengembangan serta manufaktur yang memiliki kemampuan untuk memproduksi bahan baku secara mandiri. Sumber daya alam yang melimpah sejatinya dapat menjadi suatu potensi yang kuat bagi Indonesia untuk mewujudkan mimpiindustri farmasi. Pengembangan riset bahan alam dapat dilakukan untuk selanjutnya mengetahui potensi-potensi bahan alam Indonesia yang dapat dijadikan sebagai sumber pengolahan bahan baku obat khususnya obat herbal. Banyak potensi yang terbangkalai di negara ini, banyak sumber yang belum diketahui bagaimana cara memanfaatkannya. Kedepannya, industri farmasi akan menjadi kuat dengan adanya keinginan untuk dapat menyediakan dan memperoleh bahan baku obat secara lokal. Pada zaman teknologi ini, kebutuhan akan lapangan pekerjaan sangat krusial karena banyaknya tenaga manusia yang digantikan oleh mesin-mesin besar tidak bernyawa. Untuk itu, pengembangan riset yang akan dilakukan berkaitan dengan bahan baku obat ini akan memberikan lapangan pekerjaan yang sangat banyak bagi masyarakat Indonesia. Mulai dari hal-hal sederhana seperti pertanian, perkebunan, dan peternakan tentu akan mendapatkan perhatian yang lebih oleh pemerintah, karena potensi-potensi tersebut lebih banyak akan bersumber pada hal-hal yang terdapat di lingkungan sekitar. Contoh sederhananya adalah bua Kemloko atau buah Amla. Buah ini di India memiliki manfaat sebagai immunomodulator dan tonik untuk rambut maupun mata. Sedangkan di Indonesia, buah ini diabaikan dan dianggap sebagai buah yang berasal dari tanaman liar bahkan tidak ada yang melirik keberadaan tanaman ini untuk selajutnya dapat dikembangkan sebagai obat herbal. Hal-hal seperti inilah yang kedepannya akan menjadi pioneer kemandirian dan kemajuan bangsa. Peran serta masyarakat terutama intelektual muda atau kaum milenial saat ini tentu sangat dibutuhkan untuk memberikan ide-ide kreatif dan mengonsepkan bagaimana Indonesia kedepannya, dan ingin menjadi seperti apa Indonesia di masa depan.

Lima tahun kedepan Indonesia akan menjadi negara kaya. Negara yang kaya sumber daya alam, kaya pemanfaatan, kaya riset, kaya bahan baku, dan kaya akan ekspor obat-obatan. Indonesia akan bebas dari impor bahan baku obat jika riset dan peluang bisnis yang ada dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan baik. Mekanisme yang sederhana sejatinya dapat dilakukan. Dimulai dari pencarian potensi bahan baku yang selanjutnya akan dikelola dan dipelihara oleh masyarakat di wilayah tersebut. Pemberian pemahaman, pengetahuan dan pelatihan kepada masyarakat berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam potensial akan sangat membantu keberlangsungan riset. Selanjutnya sumber-sumber potensial tersebut tentu akan diuji kualitas dan potensinya sebagai bahan baku, untuk kemudian dapat diteruskan dalam hal pengolahan sebagai bahan baku obat dan didistribusikan kepada produsen-produsen obat yang membutuhkan. Adanya sinergisme dalam pelaksanaan ini, akan memberikan dampak yang baik bagi lingkungan, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan Indonesia. Untuk itu, mimpi industri farmasi sebagai penguasa pasar ekspor dan impor serta tonggak perekonomian Indonesia akan dapat terwujud dengan adanya Indonesia bebas impor bahan baku obat. Menggeser trend “Indonesia bergantung pada impor bahan baku obat herbal” menjadi “Kemandirian Indonesia menjadikan Indonesia bebas impor bahan baku obat herbal.”