Pendidikan & Tips

Dalami Enviromental, Social, Governance, dan Risiko Greenwashing dalam Talkshow Kawan GNFI

RA
Oleh Rakha Anaqi Setyawan
Dalami Enviromental, Social, Governance, dan Risiko Greenwashing dalam Talkshow Kawan GNFI
Sumber gambar: Dokumentasi Panitia

Jakarta, 15 Juli 2026 – Delegasi Youth Ranger Indonesia (YRI) menghadiri talkshow Kawan GNFI bertajuk “Di Balik ESG: Komitmen Nyata atau Greenwashing?” yang digelar di Philip Kotler Theater, MarkPlus Main Campus, Jakarta. Kehadiran delegasi YRI menjadi bagian dari upaya organisasi untuk memperluas wawasan generasi muda mengenai implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG), komunikasi keberlanjutan, serta tantangan greenwashing.


Wakil Ketua Umum Perhumas sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal Indonesia ESG Professional Association (IEPA), Dr. Dian Agustine Nuriman, mengawali pembahasan mengenai komunikasi ESG di tengah meningkatnya tuntutan transparansi publik dan perkembangan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan.


“ESG adalah sebuah perjalanan atau journey, bukan sekadar pelaporan di atas kertas. Keberhasilan ESG tidak ditentukan oleh seberapa lantang perusahaan berbicara tentang keberlanjutan, melainkan seberapa besar publik percaya dan melihat bahwa praktik keberlanjutan itu benar-benar dijalankan di lapangan, tanpa greenwashing,” ujarnya.


Ia menyoroti bahwa implementasi ESG menghadapi berbagai tantangan, baik dari sisi kesiapan internal organisasi maupun dari sisi pembangunan kepercayaan publik. Oleh karena itu, kredibilitas perlu dibangun melalui pemetaan pemangku kepentingan, konsistensi antara komitmen dan tindakan, serta pelaksanaan program yang terstruktur dan dapat dipertanggungjawabkan.


Senior Director Public Affairs & Sustainability Danone Indonesia, Karyanto Wibowo, turut mengkritisi bahwa implementasi ESG perlu melibatkan berbagai kelompok pemangku kepentingan, termasuk komunitas dan masyarakat.

 

Ia juga menekankan pentingnya kejujuran dalam komunikasi terkait keberlanjutan. Komunikasi yang tidak didukung oleh praktik dan bukti secara memadai berisiko mengurangi kepercayaan publik serta memunculkan persepsi greenwashing.


Sementara itu, Manajer Pilar Pembangunan Ekonomi Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas, Setyo Budiantoro, menyoroti pentingnya penyelarasan ESG dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Keduanya memiliki keterkaitan dalam mendorong pembangunan berkelanjutan dan menjadi rujukan bagi berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, lembaga filantropi, hingga sektor bisnis.


Dalam paparannya, Setyo turut mengkritisi sejumlah tantangan dalam praktik pelaporan keberlanjutan, termasuk greenwashing dan cherry picking, yakni kecenderungan untuk hanya menampilkan capaian tertentu tanpa memberikan gambaran yang utuh mengenai persoalan dan dampaknya. Ia juga menekankan pentingnya penguatan akuntabilitas dan regulasi agar laporan keberlanjutan tidak sekadar menjadi sarana untuk mempercantik citra organisasi.


“Akuntabilitas adalah harga mati. Prinsip utamanya sederhana: do what you plan, and report what you do. Lakukan apa yang direncanakan dan laporkan apa yang benar-benar dilakukan,” ujarnya.


Rangkaian acara dilanjutkan dengan sesi “Off-Air Good Talk” yang dipandu oleh Advisor dan Senior Editor GNFI, Dadi Krismatono. Diskusi menyoroti pentingnya membangun kepercayaan publik di era digital, ketika masyarakat memiliki akses yang luas untuk menelusuri dan memverifikasi rekam jejak perusahaan melalui berbagai platform digital, mesin pencari, dan teknologi berbasis kecerdasan buatan. Dalam konteks tersebut, program tanggung jawab sosial perusahaan tidak cukup jika hanya bersifat seremonial. Program keberlanjutan perlu memiliki tujuan yang jelas, dampak yang dapat dievaluasi, serta didukung oleh keterbukaan dalam menyampaikan capaian maupun tantangan yang masih dihadapi.


“Komunikasi ESG bukan sekadar mempublikasikan hal-hal baik karena merupakan bagian dari fungsi manajemen strategis. Kita tidak memulai dari nol, melainkan dari minus yang dihasilkan oleh beban masa lalu industri terhadap lingkungan. Tugas kita adalah mengubah minus itu menjadi reputasi positif melalui keterbukaan,” jelas Dadi.


Diskusi tersebut juga menyampaikan betapa pentingnya membangun kerangka kepercayaan (trust framework) melalui transparansi berbasis data, tanggung jawab, pemahaman terhadap kebutuhan pemangku kepentingan, penyajian bukti atas tiap klaim, serta komunikasi dua arah yang memungkinkan masyarakat terlibat aktif.


Bagi Youth Ranger Indonesia, partisipasi dalam forum ini menjadi ruang pembelajaran untuk memperkuat pemahaman generasi muda terhadap isu keberlanjutan yang semakin kompleks. Wawasan dari berbagai perspektif yang disampaikan para narasumber diharapkan dapat memperkuat literasi ESG di lingkungan organisasi sekaligus mendorong generasi muda untuk lebih kritis dalam membedakan antara komitmen keberlanjutan yang nyata dan komunikasi yang berpotensi mengarah pada greenwashing.

Topik:EnviromentalSocialGovernanceGreenwashingGenerasi Muda
Tautan berhasil disalin!