26 May 2026
Oleh:
Latifa Azzahra
Sumber Gambar:
Dokumentasi Panitia
Jakarta, 24 Mei 2026 - Youth Ranger Indonesia sukses menyelenggarakan How To Start Fest 2026 bertajuk “Akselerasi Tanpa Batas” di Ganara Art, FX Sudirman. Acara ini menjadi salah satu aksi generasi muda Indonesia untuk berani melangkah dari overthinking menuju real action.
Mengusung semangat “From Overthinking to Doing”, kegiatan ini menghadirkan berbagai tokoh muda inspiratif dari bidang pendidikan, kesehatan, kreativitas, bisnis, pemerintahan, hingga pengembangan diri. Melalui sesi bedah buku, seminar, dan talkshow interaktif, peserta diajak memahami bahwa keberanian memulai bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang kemauan untuk terus bertumbuh.
Rangkaian acara dibuka oleh Khairunnisa (Brand Ambassador Youth Ranger Indonesia) bersama Daffa Azriel (HR Staff YRI Jakarta Banten) sebagai Master of Ceremony. Suasana pembukaan berlangsung khidmat dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta jingle Youth Ranger Indonesia yang membangkitkan semangat dan antusiasme peserta.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi sambutan dari Aura Salwa selaku Ketua Pelaksana How To Start Fest 2026, David Wijaya selaku Founder Youth Ranger Indonesia, Alfreno Kautsar selaku Staf Khusus Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, serta Alim A. Siddik selaku Direktur Operasional NUO. Dalam sambutan tersebut, para pembicara menyoroti pentingnya keberanian anak muda untuk mengambil langkah pertama, membangun networking, dan menciptakan ruang bertumbuh yang sehat dan positif.
Memasuki sesi bedah buku, Founder Youth Ranger Indonesia sekaligus penulis buku How To Start, Rinaldi Nur Ibrahim, hadir bersama David Wijaya dengan dipandu moderator Raisa Wulan. Dalam sesi tersebut, Rinaldi membagikan pengalaman personalnya mengenai perjalanan hidup dan proses adaptasinya ketika pertama kali merantau ke Jakarta. Ia menekankan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari perubahan cara pandang terhadap kehidupan. Menurutnya, buku How To Start lahir dari rangkuman berbagai strategi, pengalaman, dan pelajaran hidup yang ingin ia bagikan kepada anak muda agar lebih berani melangkah menghadapi ketakutan.
“Overthinking sering kali datang dari ketakutan terhadap diri sendiri, keluarga, teman dekat, dan omongan orang lain. Tapi ketika kita mulai berpikir positif, jalan itu akan terbuka dengan sendirinya,” ungkap Rinaldi. Ia juga menjelaskan bahwa proses berdamai dengan diri sendiri menjadi salah satu kunci penting dalam pertumbuhan seseorang. “Semakin kita berdamai dan memaafkan diri sendiri, semakin cepat kita bertumbuh,” tambahnya.
Dalam sesi diskusi bersama peserta, berbagai keresahan anak muda turut diangkat, mulai dari cara menemukan partner bertumbuh, menjaga semangat agar tetap menyala, hingga menghadapi lingkungan yang tidak mendukung. Menanggapi hal tersebut, Rinaldi menekankan pentingnya membangun lingkungan pertemanan yang sefrekuensi atau memiliki visi yang sama. “Kita harus tahu mana teman untuk bertumbuh dan mana teman untuk bersosialisasi biasa. Kalau ingin berkembang, carilah orang-orang yang juga ingin berkembang,” jelasnya.
Founder Youth Ranger Indonesia, David Wijaya, turut menambahkan bahwa proses bertumbuh akan terasa lebih menyenangkan ketika dijalani bersama orang-orang yang memiliki energi dan arah yang sama. “Fokus terhadap perjalanan diri sendiri adalah hal yang penting. Ketika kita berada di lingkungan yang tepat, proses berkembang akan terasa lebih sehat,” ujarnya.
Semangat keberanian untuk memulai kemudian dilanjutkan dalam Seminar Episode 0 bertajuk “Breaking the Barrier” yang menghadirkan Leo Giovanni selaku Content Creator Pakar FYP, Waode Heni Andraini selaku Winner POP Academy Indosiar, drg. Ita Lestari selaku Pendiri FDC Clinic, serta dipandu oleh Syeh Nafil selaku Manager of Brand Ambassador Youth Ranger Indonesia.
Dalam sesi tersebut, para narasumber membagikan kisah perjuangan mereka saat memulai perjalanan karir dari titik nol. Waode Heni Andraini menceritakan pengalamannya menghadapi rasa insecure dan proses adaptasi dari Baubau menuju dunia hiburan nasional di Jakarta. Meski menghadapi berbagai tantangan, ia mengaku dukungan keluarga menjadi kekuatan terbesar dalam perjalanan hidupnya. Waode juga menegaskan bahwa modal terbesar anak muda di era kreatif saat ini bukan hanya materi, tetapi mental dan keberanian menunjukkan potensi diri. “Kalau kita percaya diri dan terus mengembangkan kemampuan, maka peluang untuk sukses akan selalu ada,” ujarnya.
Sementara itu, Leo Giovanni membagikan kisah awal dirinya membangun akun konten digital dari topik sederhana seputar skincare. Ia menekankan bahwa langkah pertama merupakan pembeda utama antara mereka yang hanya memiliki mimpi dan mereka yang benar-benar bergerak.
“Prinsip saya cuma satu, jangan takut untuk memulai. Ketika memulai sesuatu, kita juga harus tahu alasan terbesar kenapa kita ingin melakukan itu,” jelas Leo. Ia juga mengungkapkan bahwa hal yang paling ia syukuri saat ini adalah keberaniannya untuk berkembang. Menurutnya, rasa takut dan keraguan adalah hal yang wajar, tetapi keberanian untuk terus melangkah menjadi proses penting dalam membangun diri.
Dari sisi kesehatan dan kewirausahaan, drg. Ita Lestari membagikan pengalaman hidup yang penuh perjuangan hingga akhirnya membangun FDC Clinic. Ia mengisahkan bagaimana pengalaman pernah bekerja tanpa dibayar dan kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik menjadi titik balik yang mendorongnya membangun usaha sendiri.
“Jangan pernah takut untuk memulai. Tidak ada yang namanya kesempurnaan, semuanya dibentuk dari perjalanan dan proses,” tuturnya. Ia juga menegaskan bahwa motivasi terbesar dalam membangun karier bukan semata mencari keuntungan, tetapi menghadirkan manfaat bagi orang lain. Menurutnya, keberhasilan sejati lahir ketika seseorang mampu memberikan dampak positif melalui pekerjaannya.
Suasana acara kemudian semakin hangat melalui penampilan spesial dari Yan Joshua selaku musisi muda bersama Waode Heni Andraini yang berhasil menghibur sekaligus membangun euphoria positif dengan para peserta.
Memasuki sesi seminar selanjutnya, How To Start Fest 2026 menghadirkan Seminar Episode 1 bertajuk “The Inner Game: Mengelola Suara di Dalam Kepalamu.” Sesi inspiratif ini dipandu oleh Salmahita Ataya selaku Brand Ambassador Youth Ranger Indonesia dan menghadirkan dr. Ikhsanuddin Qothi selaku Dokter Umum & Influencer, Yasmin Salsabila Azizah selaku Founder Tie By Min, serta Fryadiva Meshia Sihabudin selaku Founder Akselerate Indonesia.
Diskusi dibuka dengan pertanyaan sederhana namun sangat relevan bagi generasi muda saat ini, “Siapa yang pernah mengalami overthinking dalam mencapai tujuan?” Pertanyaan tersebut langsung memantik antusiasme peserta dan menjadi pintu masuk pembahasan mengenai mental block serta fenomena why are we stuck?
Sebagai pembuka diskusi, dr. Ikhsan menjelaskan bahwa sukses sejatinya memiliki definisi yang sangat personal. Ia menyoroti fenomena anak muda yang kaya ide, tetapi seringkali terjebak dalam tekanan ekspektasi dan kecenderungan perfeksionisme. “Anak muda sekarang punya banyak ide besar, tetapi sering kali stuck karena terlalu takut salah atau terlalu memikirkan hasil akhirnya. Intinya, mulailah dari langkah sederhana terlebih dahulu,” jelasnya.
Tak hanya dari sisi psikologis, dr. Ikhsan juga mengingatkan bahwa overthinking dapat berdampak langsung terhadap kesehatan fisik dan emosional seseorang. Ia menegaskan pentingnya kesadaran diri untuk tidak ragu mencari bantuan profesional ketika tekanan mental mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Melanjutkan diskusi dari sudut pandang bisnis, Yasmin Salsabila membagikan pengalaman jatuh bangun dalam membangun bisnis dan personal branding. Menurut Yasmin, setiap orang sukses pasti melewati fase kegagalan dan ketidakpastian. Oleh karena itu, ide yang dimiliki harus segera direalisasikan sebelum momentum terlewat. Ia juga membagikan cara menghadapi lingkungan yang tidak mendukung melalui metode distancing atau menjaga jarak dari energi negatif yang dapat menghambat pertumbuhan diri. Di akhir sesi, Yasmin mengingatkan bahwa dalam proses melawan overthinking, selalu ada orang-orang tersayang yang diam-diam menunggu kesuksesan kita.
Melengkapi jalannya seminar, Fryadiva Meshia Sihabudin menyoroti pentingnya support system yang sehat dalam menjaga konsistensi dan komitmen bertumbuh. Ia membagikan metode sederhana dalam mengevaluasi perkembangan diri melalui tiga langkah, yaitu melihat potensi diri, memetakan tantangan, dan menemukan bottleneck atau hambatan utama dalam proses perjalanan. Menurut Frya, setiap individu memiliki proses yang unik dan tidak dapat dibandingkan satu sama lain. Oleh karena itu, anak muda perlu belajar menghargai proses diri sendiri sambil tetap membangun lingkungan yang positif.
Melanjutkan atmosfer inspiratif tersebut, How To Start Fest 2026 beralih ke sesi talkshow bersama Andreas Simanjuntak selaku peraih Gold Medal Kompetisi Sains Nasional & kontestan Clash of Champions by Ruangguru, Belinda Azzahra selaku Awardee lebih dari 20 Beasiswa Internasional sekaligus profesional di industri FMCG, serta Fayyana Davianny selaku penulis 56 buku dan Public Speaking Expert. Sesi ini dipandu oleh Dimas Dwi Pangestu selaku CEO Representative External Youth Ranger Indonesia.
Dalam sesi tersebut, para narasumber membahas langkah konkret dalam menentukan tujuan hidup, membangun keberanian menghadapi ketidakpastian, hingga menjaga identitas diri di tengah kompetisi yang semakin ketat.
Andreas Simanjuntak secara terbuka membagikan keresahan yang pernah ia rasakan ketika berada pada fase kebingungan menentukan arah hidup. Ia mengakui bahwa rasa takut gagal dan tekanan untuk segera berhasil merupakan hal yang sangat umum dialami anak muda. Namun, Andreas menekankan bahwa solusi utamanya adalah kembali memahami tujuan awal dan mengenali diri sendiri secara lebih dalam. Menurutnya, keinginan yang masih abstrak perlu diubah menjadi target yang spesifik agar seseorang memiliki arah yang jelas dalam bertumbuh.
“Takut dan bingung itu normal. Tapi kita harus tetap bergerak dan punya tujuan yang jelas supaya langkah kita tidak berhenti di tengah jalan,” ungkap Andreas.
Perspektif tersebut kemudian diperkuat oleh Belinda Azzahra yang membagikan pengalaman profesionalnya di dunia korporat dan perjalanan meraih berbagai beasiswa. Belinda menekankan pentingnya sikap adaptif dan keberanian mencoba berbagai peluang tanpa membatasi diri pada satu bidang tertentu. Ia mengingatkan peserta bahwa dunia saat ini berkembang sangat cepat sehingga anak muda harus terus belajar dan membuka diri terhadap pengalaman baru. Menurutnya, proses eksplorasi menjadi bagian penting dalam menemukan potensi terbaik yang dimiliki seseorang.
“Jangan takut mencoba banyak hal. Kadang kita baru menemukan potensi terbaik diri kita setelah berani keluar dari zona nyaman,” jelas Belinda.
Sebagai penutup sesi, Fayyana Davianny menghadirkan perspektif yang lebih reflektif mengenai pentingnya self-presence dan kesadaran diri dalam proses mengejar mimpi. Ia mengingatkan bahwa di tengah ambisi dan tekanan kompetisi, generasi muda tetap perlu menjaga kesehatan emosional dan hubungan spiritual dengan Tuhan. Menurut Fayyana, rasa syukur menjadi pondasi penting agar seseorang tidak kehilangan arah ketika berada di tengah proses panjang menuju kesuksesan. Ia juga mengajak peserta untuk tetap menyayangi diri sendiri dan tidak terus-menerus membandingkan perjalanan hidup dengan orang lain. “Bertumbuh itu penting, tapi jangan sampai kita kehilangan diri sendiri dalam prosesnya,” jelasnya.
Antusiasme peserta yang tinggi sepanjang acara menunjukkan bahwa keresahan mengenai overthinking, rasa takut gagal, hingga tekanan sosial masih menjadi isu yang sangat dekat dengan kehidupan generasi muda saat ini. Melalui rangkaian sesi yang berlangsung dalam event How To Start Fest 2026, Youth Ranger Indonesia berharap acara ini tidak hanya menjadi suatu seminar dan talkshow motivasi, tetapi juga dapat menciptakan ruang aman bagi generasi muda untuk belajar menerima proses dan membangun keberanian dalam menemukan arah hidup mereka masing-masing. Dengan semangat kolaborasi dan pemberdayaan pemuda, Youth Ranger Indonesia optimis kegiatan ini dapat menjadi awal lahirnya lebih banyak anak muda Indonesia yang berani melangkah, berkarya, dan menciptakan perubahan positif untuk masa depan.